oleh

KARTINI, PENENTANG CANDU PERTAMA DI INDONESIA

WONOGIRI – Kartini merupakan perempuan pejuang antinarkoba pertama di Indonesia. Sosok Kartini tidak hanya memperjuangkan pendidikan, emansipasi wanita dan harkat martabat manusia. Kartini ternyata juga melayangkan kritikan tajam terhadap politik candu di zaman penjajahan Belanda.
Kartini berani melawan pemerintah Belanda dengan surat protesnya terhadap Pemerintah Belanda pada masa itu. Pasalnya, pada zaman tersebut dia sudah mengetahui dampak buruk candu atau narkoba yang merupakan upaya Belanda untuk menghancurkan generasi Indonesia.

Demikian diungkapkan motivator antinarkoba dari Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Sukoharjo, Agus Widanarko, saat mengisi seminar dalam rangka Hari Kartini di pendapa Kabupaten Wonogiri, Senin (23/4). “Kritikan itu terbilang sangat tajam mengingat pada zamannya belum ada yang berani berbuat demikian. Itu juga berarti Kartini merupakan perempuan pertama yang tercatat sejarah sebagai penentang candu atau narkoba di Indonesia,” kata Agus.

Ditambahkan Agus kalau kritikan tersebut terlihat dari surat-surat yang dikirimkannya kepada beberapa temannya di Belanda. Surat itu tercatat dalam buku berjudul “Kartini, Sebuah Biografi” yang ditulis Soeroto tahun 1979.

Di sisi lain, peran perempuan menurutnya sangat penting untuk menjaga generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Dia mencontohkan kasus yang dialami salah seorang temannya yang pernah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Selepas ke luar dari penjara, sang ibu tetap menerima dan mengarahkan temannya tersebut. “Akhirnya teman saya yang bernama Hilarius sekarang menjadi Guru Bimbingan dan Konseling (BK),” ujarnya.

Seminar itu dimeriahkan dengan penampilan musik Danar and The Blankon. Mereka berkolaborasi dengan Asrtid, seorang violis dan drummer perempuan yang juga bertindak sebagai motivator seminar. (HUMAS-est)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama