ANTISIPASI ANTHRAX, BUPATI SERU JAGAL DAN PEDAGANG HATI-HATI BELI SAPI

ANTISIPASI ANTHRAX, BUPATI SERU JAGAL DAN PEDAGANG HATI-HATI BELI SAPI

WONOGIRI – Mengantisipasi penularan penyakit hewan ternak menular, khususnya anthrax, sejumlah jagal dan pedagang ternak di Wonogiri diundang saresehan oleh Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, Rabu (29/1) di ruang Girimanik Kompleks Setda. Tujuannya, selain mempertemukan pelaku usaha peternakan dengan Pemkab, juga untuk menggali berbagai permasalahan yang terjadi, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat peternak di Wonogiri.

     Bupati menyeru kepada para jagal sapi di Wonogiri untuk tidak menerima dan memotong sapi yang sudah mati. “Para jagal dan rumah-rumah potong yang ada di Wonogiri, untuk tidak menerima sapi dalam keadaan sudah mati, bahkan sapi sakit pun jangan diterima,” pesan Bupati.

     Akhir-akhir ini berita-berita terkait penyakit anthrax sedang mengemuka. Bahkan wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta yang notabene bersebelahan dengan Wonogiri telah dinyatakan oleh pemerintah pusat sebagai wilayah Kejadian Luar Biasa (KLB) anthrax. “Untuk itu kami harapkan para jagal dan pedagang untuk lebih berhati-hati tidak membeli ternak dari daerah tersebut baik yang sehat, sakit maupun yang sudah mati,” imbuhnya di hadapan 37 jagal dan 14 pedagang sapi.

     Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat Wonogiri juga punya pasar hewan di Pracimantoro, dimana banyak sapi yang dijual di sana berasal dari daerah Gunung Kidul. Bupati menuturkan bahwa virus anthraks, bisa menyebar tanpa kita ketahui karena kecilnya virus. Disamping itu, masih banyak Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang harus diwaspadai, karena akan menginfeksi ternak dan membahayakan apabila dikonsumsi seperti cacing pita, cacing hati, dan lain-lain.

     Petugas medis dan paramedis Dinas Kelautan dan Perikanan dan Peternakan sudah melakukan upaya antisipasi penularan penyakit tersebut dengan melakukan disinfeksi, pemberian antibiotik dan vaksinasi anthrax di daerah perbatasan dan pasar hewan. “Kita harus belajar dari kejadian yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul, dimana pasar hewan ditutup dan setiap hewan dan produk dilarang keluar dari daerah Gunung Kidul. Akibatnya peternakan di Gunung Kidul mengalami masa suram, hancur, dan semua mengalami dampak negatif dari merebaknya wabah penyakit hewan menular tersebut.”

     Tak lupa Bupati juga menegaskan bahwa semua komponen harus sama-sama melakukan antisipasi, walau sampai saat ini di wilayah Wonogiri belum ditemukan penyakit antraks. (est)

Subscribe

Maturnuwun sudah baca berita kami untuk langganan berita silahkan masukkan email aktif di bawah ini nggih

No Responses

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.