UMKM PERLU MENJALIN KEMITRAAN DENGAN TOKO SWALAYAN

UMKM PERLU MENJALIN KEMITRAAN DENGAN TOKO SWALAYAN

WONOGIRI – Sebanyak 75% jumlah usaha di Wonogiri didominasi oleh usaha mikro dan kecil, berikutnya sebesar 24% merupakan usaha menengah dan sisanya sebesar 1% merupakan usaha besar. Realitas seperti ini memberikan gambaran bahwa usaha mikro dan kecil benar-benar menjadi penyangga perekonomian masyarakat Wonogiri, sehingga harus mendapatkan perhatian yang cukup. Di sisi lain, peran pasar modern sebagai pusat perbelanjaan juga tidak bisa dinafikan.

Hal ini terungkap dalam Temu Usaha Kemitraan UMKM dengan Toko Swalayan di Ruang Girimanik, Kompleks Setda Wonogiri, Selasa (2/5). Fasilitasi kemitraan usaha semacam ini menjadi satu langkah nyata untuk menjembatani keterhubungan antara usaha mikro dan kecil bidang makanan olahan dengan pelaku usaha pasar modern dalam suatu kerjasama yang baik. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kabupaten Wonogiri, Eko Subagyo mengungkapkan, acara tersebut mempertemukan antara pengusaha dengan toko-toko swalayan. “Toko swalayan itu bisa minimarket, hipermarket, atau supermarket,” katanya.

Salah satu pengisi acara, yakni Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Wonogiri Verawati Joko Sutopo mengatakan, salah satu yang terpenting dalam dunia bisnis adalah kepastian. Pelaku usaha juga harus konsisten. “Kalau sekarang bikin keripik singkong, besoknya ganti keripik belut, lalu ganti lagi produk lain, itu namanya tidak konsisten. Pembeli mau cari keripik singkong, ternyata sudah ganti produk, akhirnya pelanggan pergi,” terangnya.

Dia juga menekankan adanya kerja sama antar-UMKM. Pasalnya, sesama UMKM selama ini cenderung bekerja sendiri-sendiri, sehingga akan kewalahan apabila ada permintaan dalam jumlah besar. “Industri 4.0 itu tidak hanya bagai mana menjual secara online. Tapi membentuk keterbukaan antarkomunitas dan menjalin kerja sama untuk merespons perubahan. Bisnis harus disiplin, kreatif, berpikir terbuka, memahami kemampuan, dan no drama,” imbuhnya.

Simbiosis mutualisme antar usaha harus terus ditingkatkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Setelah kemitraan terealisasi, maka pemerintah daerah hanya bersifat memantau, selanjutnya pengusaha menjalankan kemitraan ini dengan skema “business to business” dengan prinsip saling memberi manfaat dan saling menguntungkan.

Sementara, sejumlah toko swalayan di Kabupaten Wonogiri menyatakan telah menampung produk-produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal, baik yang berupa makanan maupun fashion (pakaian). Untuk itu, UMKM perlu memelihara kualitas dan kontinuitas produk mereka.

Lagiyanto, perwakilan dari Toko Swalayan Luwes Wonogiri mengungkapkan, sekitar 20 pengusaha lokal sudah menjalin kerja sama dengan toko modern tersebut. “Ada yang kerja sama produk makanan dan fashion,” katanya.

Meskipun sudah bisa menembus swalayan modern, produk-produk UMKM itu harus bisa bersaing dengan produk-produk serupa. Dia mencontohkan, saat ini ada sekitar 6-7 jenis produk keripik tempe yang dijual di swalayan Luwes. Alhasil, mereka harus menyuguhkan yang terbaik untuk memenangkan persaingan. “Kami juga membuka stan khusus UKM Wonogiri agar mudah dilihat pembeli,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya menjalin kerja sama dengan UMKM Wonogiri yang memproduksi fashion, pakaian maupun batik. “Sudah ada beberapa UMKM fashion yang bekerja sama dengan kami,” terangnya. (HUMAS-est)

 

Subscribe

Maturnuwun sudah baca berita kami untuk langganan berita silahkan masukkan email aktif di bawah ini nggih

No Responses

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.